This post is also available in: English (English)

Siang itu Rosita Rivai berkesempatan makan bersama Yance dan kedua putrinya, Yustina dan Miranti. Menu mereka adalah sepiring sagu dan sepiring mie instant yang masih hangat. Rosita, anggota tim dokter Dompet Dhuafa yang ditugaskan memberi layanan kesehatan di Agats, Asmat, Papua, bertanya kepada Yance, “Kenapa tidak makan yang lain, Mama?”

“Tidak ada perahu, sudah dijual. Ini saja yang dimakan,” jawab Yance.

Perempuan asli Papua itu pun bercerita kepada Rosita mengenai ibunya yang selalu masak sagu dan mie instant untuk keluarganya. Jika sagu tak ada, kadang keluarga itu hanya mie instant saja. Menu itulah yang diwariskan ibunya kepada Yance dan ia teruskan sebagai “menu keluarga”. Tak heran, jika gizi buruk menewaskan lebih dari 60 anak di Papua.

Sebagai seorang relawan dokter yang dikirim untuk menyalurkan bantuan dan memberikan layanan kesehatan, Rosita juga menelusuri akar penyebab masalah di Asmat. Dari pengamatan dan penelusurannya inilah, ia meyakini bahwa ada yang berubah dari pola makan masyarakat Asmat dan ketidakadilan ekonomi di Papua.

Awalnya masyarakat Asmat adalah masyarakat peramu yang mendapatkan makanannya dari berburu dan mengambil hasil hutan, seperti umbi-umbian dan sagu. Tapi, hutan di Papua telah berubah menjadi perkebunan kelapa sawit yang massif dan merusak tanah. Human Right Watch (HRW) menyatakan bahwa perkebunan kelapa sawit di Papua seluas lebih dari 2 juta hektar. Tak ada lagi umbi-umbian, sagu, dan hewan buruan, seperti rusa, babi, burung, atau ayam.

Kehilangan sumber makanan dari hutan telah menjadikan mereka beralih ke mie instan. Mudah, murah, dan cepat disajikan. Setelah beberapa generasi dari tahun 1980-an, dampaknya semakin besar. Malnutrisi dan gizi buruk menghantui masyarakat Asmat.

Dompet Dhuafa berkomitmen membangun lumbung pangan (food bank) yang berbasis kearifan lokal dengan sedekah pohon, pengembalian hutan, dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Masyarakat akan belajar untuk memproduksi makanan lokalnya sendiri. Program jangka panjang ini dipastikan akan terus berkelanjutan, sehingga tak ada lagi cerita anak-anak kelaparan di pulau emas.

Maukah Anda berbagi kebahagiaan dengan membangun lumbung pangan untuk mereka? Donasi untuk Asmat Food Bank disini sekarang!

This post is also available in: English (English)