Nabi Muhammad, Kebijakan Imigrasinya, dan “Madinah-Dream”

//Nabi Muhammad, Kebijakan Imigrasinya, dan “Madinah-Dream”

Nabi Muhammad, Kebijakan Imigrasinya, dan “Madinah-Dream”

This post is also available in: English (English)

Rasulullah adalah seorang imigran yang hijrah dari Mekah ke Yatsrib. Setelah hijrah, orang menyebut Yatsrib sebagai Madinah dari Madinatun-Nabiy yang berarti Kota Tempat Nabi (Muhammad). Beberapa hari setelah hijrah dan diangkat sebagai pemimpin Madinah, Rasulullah mendeklarasikan Madinah sebagai kota yang ramah terhadap imigran dari seluruh dunia. Kota Madinah dibangun berdasarkan dua kekuatan utama, yaitu para imigran (muhajirin) dan penduduk asli Yatsrib yang menolong para imigran (anshar). Semua dipersatukan ke dalam sebuah “ummat”. Semua suku, etnis, dan kabilah, apapun agamanya, diakui sebagai penduduk Madinah.

Rasulullah bahkan menyetujui konstitusi Madinah yang salah satunya menyatakan, “Yatsrib akan menjadi tempat yang aman untuk mereka yang bernaung di bawah konstitusi ini. Seseorang asing yang mendapatkan perlindungan (dari pihak-pihak yang tercantum dalam konstitusi ini) akan diperlukan sebagai tamu pihak tersebut selama ia tidak terlibat tindak kriminal atau melakukan sesuatu yang membahayakan. Barangsiapa yang terlibat dalam kegiatan-kegiatan melawan negara maka akan dikenakan hukuman.”

Konstitusi Madinah adalah kemenangan bagi seluruh warga Madinah, terutama para imigran muslim yang dipersekusi di Mekah. Setelahnya hijrahnya Rasulullah tahun 622 M, Madinah berkembang menjadi sebuah kota yang ramah terhadap orang asing (imigran) yang datang dan menetap. Keragaman negara-kota Madinah adalah salah satu penyebab berkembangnya kota ini sebagai sebuah negara adidaya beberapa tahun setelahnya. Sebagai pemimpin Madinah, strategi imigrasi apa yang diterapkan Rasulullah untuk membangun sebuah negara-kota yang kuat?

Rasulullah dan para sahabat membangun keragaman Madinah dengan memperkenalkan konsep baru mengenai persaudaraan di Semenanjung Arabia. Rasulullah menghancurkan konsep persaudaraan berdasarkan darah dan keturunan. Beliau menggantinya dengan konsep “ummat” yang dipersaudarakan oleh iman. Rasulullah mempersaudarakan para imigran dan para penolong mereka. Sebagian dari penduduk asli bahkan memberikan properti mereka, seperti rumah dan perkebunan.

Beberapa imigran, seperti Abdurrahman bin Auf, memilih untuk menjaga kehormatan mereka dan menolak pemberian rumah dan kebun. Abdurrahman bin Auf hanya meminta tolong “saudara barunya”, Saad bin Rabi, untuk ditunjukan kemana jalan menuju ke pasar terdekat. Padahal waktu itu, Saad adalah salah satu orang terkaya di Madinah. Beberapa tahun kemudian, Abdurrahman juga¬† (yang memang pengusaha berbakat) menjadi salah seorang terkaya di Madinah berjejer dengan “saudaranya”, Saad bin Rabi. Kisah ini membuktikan bahwa Abdurrahman, seorang imigran yang ketika pindah dari Mekah tak membawa sesuatu apapun, bisa meraih “Madinah Dream”-nya di tanah air baru.

Rasulullah juga mendorong penduduk Madinah untuk membebaskan para budak untuk meningkatkan keadilan rasial di Madinah. Seorang sahabat dekat Rasulullah, Bilal bin Rabbah, adalah seorang budak sebelum dibebaskan oleh Abu Bakar pada saat mereka tinggal di Mekah. Bilal yang berasal dari Ethopia selalu bersama Rasulullah. Bahkan mengikuti beliau berhijrah dari Mekah ke Madinah. Di zaman saat rasisme dan segregasi masih umum di seluruh dunia, banyak yang tidak mengenali Muhammad saat ia makan atau bercengkrama bersama Bilal. Tidak lazim, bagi seorang kepala negara makan bersama orang yang berkulit hitam, yang saat itu identik dengan perbudakan. Bilal mendapatkan tempat yang terhormat sebagai seoarang muadzin, yang memanggil orang untuk menunaikan shalat lima kali sehari. Dengan suaranya yang merdu dan bakatnya mengumandangkan adzan, Bilal memanggil setiap muslim di Madinah untuk bergegas ke masjid dan melakukan sholat.

Pernah terlontarkan sebuah komentar rasis dari seorang sahabat bernama Abu Dzar ketika ia beradu argumentasi dengan Bilal. Ia menyebut Bilal sebagai “anak dari perempuan kulit hitam”. Saat Rasulullah mendengar kejadian ini, beliau berkata kepada Abu Dzar, “Sesungguhnya kamu masih berpegang kepada sifat zaman jahiliyah (sebelum Islam datang). Islam telah menghapuskan semua sifat yang menilai seseorang dari keturunan, bentuk, warna kulit, dan kekayaan. Telah disampaikan bahwa orang yang paling mulia (di sisi Allah) orang yang paling bertakwa dan berkelakuan baik. Apakah pantas menghinakan seorang beriman hanya karena ia berkulit hitam?” Abu Dzar terkejut dengan pernyataan Rasulullah. Ia langsung pergi ke rumah Bilal dan menaruh kepalanya di tanah sambil berkata, “Kepala ini akan selamanya berada di sini sebelum kakinya Bilal yang berkah menginjak wajah seorang yang bodoh dan tak sopan, si Abu Dzar.” Bilal termenung lalu menarik Abu Dzar untuk berdiri sambil berkata, “Wajah ini untuk dikecup. Bukan untuk diinjak.” Sedemikian indah relasi antar-ras ini di Madinah. Inilah keragaman yang sebenarnya yang menjadikan Madinah sebagai model negara-kota yang berkeadilan sosial di sejarah Islam.

Rasulullah Muhammad Shalallahu alaihi wassalaam, sebagai seorang kepala negara di Madinah, telah menerapkan banyak program untuk membantu para imigran untuk berasimilasi dan mewujudkan Madinah Dream-nya. Hasilnya amat mencengangkan. Hanya dalam waktu sekitar 13 tahun, Madiah menjadi sebuah negara-kota multikultural yang menjadi sebuah kekuatan adidaya di semenanjung Arabia. Ekonomi Madinah melaju dengan pesat. Negara-kota lainnya, seperti Mekah dan sekutunya, tentu tak berdiam diri. Mereka berusaha mengembargo dan menyerang Madinah beberapa kali untuk menghancurkan negara-kota yang berbasiskan keragaman ini. Salah satunya saat perang Khandaq, di saat Madinah diblokade secara ekonomi dan politik oleh seluruh negara kota di semenanjung Arabia. Saat itu Salman Al-Farisi atau Salman dari Persia, seorang imigran, yang mempunyai siasat perang jitu bertolak dari pengalamannya saat di Persia, “Ya Rasulullah! Di Persia, kami menggali parit untuk mempertahankan sebuah kota.”¬† Siasat perang ala Persia ini terbukti ampuh menghadapi pasukan koalisi. Negara-kota Madinah akhirnya menguasai seluruh semenanjung Arabia.

Rasulullah telah membuktikan bahwa strategi keimigrasian yang diterapkannya sukses membawa Madinah sebagai kota yang ramah imigran dan berkontribusi besar memperkenalkan nilai-nilai keadilan sosial ke seluruh dunia berabad-abad kemudian.

Taskerianto Morriswari, Mahasiswa S2, Tingga; di Philadelphia.

This post is also available in: English (English)

By |2018-02-19T15:56:18+00:00Februari 19th, 2018|Blog|0 Comments

Leave A Comment