This post is also available in: English (English)

Apakah Anda seorang profesional dengan penghasilan melebihi kebutuhan hidup Anda dan keluarga? Ataukah Anda seorang karyawan berpenghasilan di atas garis kemiskinan yang ditentukan oleh Pemerintah setempat? Jika jawabannya “Ya”, berarti Anda termasuk orang yang berkewajiban untuk menunaikan zakat penghasilan. Para ulama fikih kontemporer sepakat bahwa penghasilan dari profesi yang digeluti termasuk harta yang harus disucikan dengan cara ditunaikan zakatnya. Zakat profesi dianalogikan dari zakat pertanian yang diwajibkan untuk para petani. Seiring dengan berkembangnya peradaban manusia dan makin terspesialisasinya profesi di zaman modern, maka penerapan zakat profesi juga disesuaikan dengan perkembangan zaman. 

Zakat pada hakikatnya adalah membersihkan harta orang yang mampu untuk dibagikan kepada orang yang tidak mampu. “Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian”(QS. Adz-Dzariyat:19).

 

Baca juga:

Zakat dan Cita-Cita Keadilan Sosial dalam Islam

Tak Cukup Hanya dengan Zakat Fitrah

 

Berikut adalah para ulama fikih kontemporer yang menyatakan wajibnya menunaikan zakat profesi:

1. Dr. Yusuf Al-Qaradawi (Mesir dan Qatar)

Tidak bisa dipungkiri bahwa Dr. Yusuf Al-Qaradawi adalah salah satu icon yang paling mempopulerkan zakat profesi. Beliau membahas masalah ini dalam buku beliau Fiqh Zakat yang merupakan disertasi beliau di Universitas Al-Azhar, dalam bab زكاة كسب العمل و المـهن الحرة (zakat hasil pekerjaan dan profesi). Sesungguhnya beliau bukan orang yang pertama kali membahas masalah ini. Jauh sebelumnya sudah ada tokoh-tokoh ulama seperti Abdurrahman Hasan, Syeikh Muhammad Abu Zahrah, dan juga ulama besar lainnya seperti Abdulwahhab Khalaf. Namun karena kitab Fiqhuz-Zakah itulah maka sosok Al-Qaradawi lebih dikenal sebagai rujukan utama dalam masalah zakat profesi.

Inti pemikiran beliau, bahwa penghasilan atau profesi wajib dikeluarkan zakatnya pada saat diterima, jika sampai pada nishab setelah dikurangi hutang. Dan zakat profesi bisa dikeluarkan harian, mingguan, atau bulanan.

Dan sebenarnya disitulah letak titik masalahnya. Sebab sebagaimana kita ketahui, bahwa diantara syarat-syarat harta yang wajib dizakati, selain zakat pertanian dan barang tambang (rikaz), harus ada masa kepemilikan selama satu tahun, yang dikenal dengan istilah haul.

Sementara Al-Qaradawi dan juga para pendukung zakat profesi berkeinginan agar gaji dan pemasukan dari berbagai profesi itu wajib dibayarkan meski belum dimiliki selama satu haul.

2. Dr. Abdul Wahhab Khalaf dan Syeikh Abu Zarhah (Mesir)

Dalam kitab Fikih Zakat, Al-Qaradawi tegas menyebutkan bahwa pendapatnya yang mendukung zakat profesi bukan pendapat yang pertama. Sebelumnya sudah ada tokoh ulama Mesir yang mendukung zakat profesi, yaitu Abdul Wahhab Khalaf dan Abu Zahrah. Dalam kuliah yang mereka sampaikan tentang zakat, disebutkan bahwa mereka mewajibkan zakat profesi sebagai salah satu kewajiban. Namun mereka memberi syarat haul dan nishab, sebagaimana disebutkan dalam kutipan :

أما كسب العمل والمهن فإنه يؤخذ منه زكاة إن مضى عليه حَوْلٌ وبلغ نِصَبا

Sedangkan penghasilan kerja dan profesi diambil zakatnya apabila telah dimiliki selama setahun dan telah mencapai nishab.

Kalau kita telaah fatwa mereka dengan cermat, sebenarnya yang mereka fatwakan bukan zakat profesi seperti yang umumnya kita kenal sekarang ini, yaitu zakat tanpa harus dimiliki setahun. Kedua ulama ini masih tetap mensyaratkan haul dan nishab. Kalau ada kedua syarat itu, setidaknya syarat haul, maka zakat itu lebih merupakan zakat atas harta yang ditabung atau disimpan dan bukan zakat profesi. Padahal inti dari zakat profesi itu tidak membutuhkan haul, sehingga begitu diterima, langsung terkena zakat.

 

Baca juga:

Hitung zakat Anda dengan Kalkulator Zakat!

 

3. Muhammad Al-Ghazali (Mesir)

Dalam fatwanya. Dr. Muhammad Al-Ghazali mengatakan bahwa orang yang penghasilannya di atas petani yang terkena kewajiban zakat, maka dia pun wajib berzakat. Maka dokter, pengacara, insinyur, produsen, pegawai dan sejenisnya diwajibkan untuk mengeluarkan zakat dari harta mereka yang terhitung besar itu.

4. Majelis Tarjih Muhammadiyah (Indonesia)

Musyawarah Nasional Tarjih XXV yang berlangsung pada tanggal 3 – 6 Rabiul Akhir 1421 H bertepatan dengan tanggal 5 – 8 Juli 2000 M bertempat di Pondok Gede Jakarta Timur dan dihadiri oleh anggota Tarjih Pusat.

Pada Lampiran 2 Keputusan Munas Tarjih XXV Tentang Zakat Profesi dan Zakat Lembaga disebutkan bahwa :

a. Zakat Profesi hukumnya wajib.

b. Nisab Zakat Profesi setara dengan 85 gram emas 24 karat

c. Kadar Zakat Profesi sebesar 2,5 %

 

Cara Menunaikan Zakat Profesi

Islam adalah agama yang sangat memperhatikan pengelolaan keuangan pribadi dan keluarga (personal finance). Oleh karenanya, menghitung seluruh aset dan kewajiban (liabilitas) pribadi diperlukan sebagai dasar perhitungan zakat profesi atau zakat penghasilan.

1. Hitung semua asset dan kewajiban Anda dalam sekali gajian atau pay check. Bisa juga dilakukan dengan periode per bulan, per quarter, atau  per tahun.

2. Jika asset Anda lebih besar daripada kewajiban (liabilitas) Anda, maka net income atau net worth Anda akan positif. Jika net worth Anda lebih besar dari nishab (atau batas penghasilan kena zakat), maka Anda berkewajiban untuk menunaikan zakat. Nishab untuk zakat profesi adalah senilai 520 kg (1,147 lbs). Jika harga beras Jasmine Rice yang biasa dikonsumsi masyrakat Indonesia di Amerika Serikat adalah $1.76/kg (atau $0.8/lbs), maka nishab zakat profesi adalah sebesar $917.60.

Jika net worth Anda negatif atau di bawah besaran nishab, Anda kemungkinan besar termasuk orang yang berhak menerima zakat. Silahkan hubungi lembaga amil zakat untuk mendapatkan bantuan.

3. Kalikan net worth Anda dengan 2.5%. Hasilnya adalah besar zakat yang dikeluarkan untuk membersihkan keseluruhan penghasilan Anda.

4. Tunaikan zakat Anda langsung atau melalui lembaga yang mengelola zakat. Jika Anda membayarkan zakat kepada lembaga zakat, Anda berhak untuk memberikan arahan mengenai pendistribusiannya. Pada dasarnya zakat adalah amanah  yang Anda berikan melalui lembaga zakat tersebut.

 

 

This post is also available in: English (English)